Jumat, 16 Oktober 2015

Nyanyian Gerhana


8 Oktober 2014. Hampir dua bulan aku berada di tanah Flores. Tapi rasanya, Ah! Aku masih merasa asing di sini. Jam tanganku menunjukkan pukul 18.32 WITA, belum larut memang tapi malam itu terasa sunyi, dingin, tanpa cahaya lampu, hanya sinar senter yang memenuhi ruangan seluas 3x3 yang aku tempati.  Tidak ada hal yang dapat aku lakukan, kosong, sepi. Sepertinya aku ingin pulang saja. Ya, pulang ke rumahku, di Jawa. Argh! Aku harus menyingkirkan keinginan itu.
Akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan ruangan itu, meninggalkan kosong, meninggalkan sepi, keluar. Semua gelap, gerhana! Gerhana bulan di tanah Flores. Ku langkahkan kaki mencari Mama-pemilik rumah yang aku tempati-, ku dapati Mama di depan kiosnya yang setengah tertutup ditemani sebatang lilin. Aku memulai obrolan dengannya, obrolan yang tidak penting, mungkin. Sayup-sayup kudengar suara kaleng dan jerigen yang dipukul-pukul berselingan dengan suara anak-anak menyanyikan lagu, lagu yang liriknya tidak begitu jelas. Kupertajam pendengaranku, kurang lebih lirik ini yang aku dengar, “Ooo..oo…oo..oo..ooo..oo..oo..oooo..Jangan ragu dan jangan bimbang….kesuksesan ada di tangan…bapak ibu kami semuanya, mohon doa dan dukungannya…….”
“Ma, dimana anak-anak itu menyanyi?’ tanyaku pada Mama. Tangannya menunjuk ke ujung jalan, menunjuk pada api yang menyala, menunjuk pada kerumunan anak-anak. “Kami orang Manggarai di sini percaya kalau anak-anak menyanyi dan membuat bunyi-bunyian, gerhana cepat hilang”, begitu penjelasan mama padaku. Aku tertarik mendekati api dan sumber suara itu. Aku berjalan menembus gelap, menembus dingin, berharap mendapat kehangatan.
“Ibu..mari sini bergabung, mari kita menyanyi sama-sama”, ucap seorang anak begitu melihatku. Aku tersenyum sambil mengangguk. Seorang mama dengan cekatan menyodorkan bangku kayu kepadaku dan menyuruhku duduk. Aku beruntung di tempatkan di sini, tempat di mana seorang guru begitu dihormati, begitu dihargai. Tidak berhenti di bangku kayu, si mama masih melanjutkan kebaikannya dengan membuatkan kami semua secangkir kopi Manggarai. Ya, Manggarai memang terkenal dengan kopinya, kopi hitam yang kental dengan sedikit gula. Hampir setiap keluarga menumbuk kopinya sendiri. Sepertinya minum kopi menjadi hal yang wajib dilakukan di Manggarai, tiada hari tanpa minum kopi, bahkan orang Manggarai bisa menghabiskan sepuluh gelas kopi dalam satu hari. Wow! Oke, aku mulai terbiasa dengan kopi, lambungku mulai bersahabat dengan kopi Manggarai. Mungkin saat pulang nanti aku bawa kopi Manggarai banyak-banyak.
Kami menyanyi -lebih tepatnya anak-anak yang menyanyi, aku hanya duduk dan mendengarkan saja, karena aku tak paham lagu yang mereka nyanyikan- sambil menikmati kopi, sambil menunggu gerhana hilang. Tiba-tiba aku teringat, siang tadi mama tua –mama tua adalah kakaknya mama yang rumahnya aku tempati- memberiku satu kantong ubi. Aku membayangkan minum kopi sambil makan ubi bakar. Hemmm, pasti nikmat! Aku meninggalkan kerumunan, bergegas ke rumah untuk mengambil ubi. Sejurus kemudian aku kembali dengan membawa sekantong ubi. Kami melempar ubi-ubi itu pada api yang menyala-nyala. Kami terus menyanyi, hingga perlahan-lahan cahaya bulan mulai terlihat, dan bau ubi bakar mulai tercium.
“Ibu…Ubi kita sudah matang Ibu!” seru salah seorang anak sambil menusuk-nusuk ubi disela-sela api dengan sebatang kayu. “Ambil sudah!” jawabku. “Iyo, di’a d’ia kolang nana!”-“Iya hati-hati panas!”, nana adalah panggilan untuk anak laki-laki di Manggarai- anak yang lain menyahut dengan bahasa Manggarai. Kami menikmati ubi bakar dengan secangkir kopi Manggarai, sebuah perpaduan yang pas. Ubi ini terasa sangat nikmat sekali di mulutku, mungkin karena aku lapar, atau mungkin karena aku makan bersama anak-anak yang terlihat bahagia hanya dengan bernyanyi dan makan ubi bakar, atau mungkin karena keduanya. Entahlah, yang pasti aku menikmatinya. Aku bahagia. Aku bahagia berada di tengah anak-anak Manggarai.
Anak-anak Manggarai sama dengan anak-anak pada umumnya, suka bermain, jail, nakal, banyak polah. Namun mereka hidup dengan penuh kesederhanaan, mereka cukup bahagia hanya dengan mainan otto yang mereka buat sendiri dari bambu dan sandal karet bekas dibentuk lingkaran sebagai rodanya. Mereka cukup bahagia ketika aku menyodorkan beberapa permen-mereka menyebutnya bon-bon atau popong-, bahkan mereka bahagia ketika harus mengambil berjerigen-jerigen air di sumber air. Aku rasa, beban hidup anak-anak Manggarai lebih berat dari anak-anak di Jawa. Mereka harus mengambil air, menjaga adik yang mungkin hanya dua tahun lebih muda-orang Manggarai mempunyai banyak anak dan jaraknya cukup dekat-. Balita di Manggarai sudah bisa mengasuh adiknya, seumuran itu seharusnya mereka menggendong boneka, tapi di Manggarai tidak, mereka sudah bisa menggendong adiknya. Anak Manggarai terbiasa dengan bekerja keras, mereka kuat, mereka tidak manja.
Tidak terasa secangkir kopi sudah habis ku tenggak, beberapa ubi bakar telah berpindah ke dalam perutku dan bulan telah memancarkan cahayanya. Gelap telah sirna, berganti terang bulan dan bintang-bintang, nyanyian anak-anak sudah tak terdengar lagi. Malam gerhana, aku mendapatkan kehangatan, bukan dari jaket yang ku pakai, bukan pula dari api unggun, tapi kehangatan dari anak-anak Manggarai.
Malam sudah makin larut, aku harus kembali ke rumah, anak-anak harus pulang. Nyanyian gerhana malam itu mendekatkan kami, membantuku menemukan keluarga di tanah Flores, membuang keinginanku untuk segera pulang ke Jawa. Nyanyian gerhana malam itu memberiku semangat untuk melanjutkan pengabdianku di sini, di Manggarai, di tanah Flores.

Tidak ada komentar: